Minggu, 05 Januari 2014

Kilas Balik

Its been a long time not to write..
Such a really long time..
Maybe because I am quite busy every day, or we can wisely said that, I am not lost anymore..
Saya tidak lagi tersesat dan mencari yang hilang dari diri saya..
Saya sudah menemukan jawabannya..
Meski masih jawaban sementara karena perjalanan menuju jalan keluar abadinya masih sangat panjang... Semoga bisa sampai dengan selamat..

Sekarang saya sedang melihat kilas balik hidup saya dan menyadari banyak hal..
Bahwa ternyata semua tangis karena ketakutan, kesulitan, perendahan diri, kecewa, dan kegagalan ternyata memang membuat saya tumbuh pelan2..
Merubah pandangan dan cara saya untuk melihat kehidupan...
Dan yang paling penting, merubah cara saya dalam memperlakukan orang lain..
Untuk menghargai, menerima, memaklumi, mencintai, dan menyayangi..
Untuk melepaskan, merelakan, mengikhlaskan, mengambil hikmah, dan berjalan pergi..
Untuk berani memaafkan, meminta maaf, memperbaiki, mengakui, untuk kemudian berbuat sesuatu yang lebih baik..

Mendekatkan saya pada Tuhan..
Karena saya tidak punya, maka saya meminta..
Karena saya takut, maka saya berdoa..
Karena saya tidak percaya, maka saya belajar untuk percaya..
Karena saya tau rasanya sakit, maka saya bisa mengerti..
Karena saya rasakan kesulitan, maka saya belajar untuk mencari solusi...
Karena saya tidak mengarti, maka saya mulai mencoba untuk memahami..

Tuhan pengabul segala doa..
Karena saya meminta untuk menjadi kuat, maka Dia memberi saya orang2 yang sulit sebagai jalan menuju kuat..
Karena saya meminta penghargaan, maka Dia memberi saya kegagalan untuk tau rasanya jatuh dan tidak dihargai sebagai jalan untuk dijauhkan hati saya dari rasa bangga diri..
Karena saya meminta kemudahan, maka Dia berikan masalah agar saya tau kemudahanNya ada di dalam setiap masalah..
Karena Tuhan Maha Tau apa yang saya butuhkan lebih dari diri saya sendiri..

Saya pernah meratap di banyak sekali malam..
Berteriak kepadaNya, kecewa, dan bertanya kenapa saya?
Dan jawabannya hari ini: Karena Tuhan tau bahwa saya mampu..
Kenapa situasi tidak menjadi baik kepada saya?
Karena Tuhan mau mendengar saya berdoa, berserah kepadaNya, dan tetap bertahan..
Kenapa saya tidak seperti orang yang lain?
Karena saya harus menyadari bahwa tidak harus menjadi orang lain untuk bisa merasakan kebaikan dan menjadi baik..
Kenapa saya ada di sini? Karena dengan ada di sini saya akhirnya belajar untuk memahami bagaimana cara Ia bekerja..

Ia bekerja dengan cara yang tidak bisa saya pahami..
Bagaimana Ia mengabulkan semua doa saya ditambah dengan banyak bonus kebaikan yang bahkan saya tidak pernah sadari bahwa bonus itu seharusnya yang saya minta dalam doa saya dulu..
Bonus2 yang ternyata lebih penting dari apa yang saya minta..
Bonus tambahan seperti keberadaan orang2 asing yang menjadi guru kehidupan yang luar biasa baiknya, keberuntungan2 kecil yang tidak disangka2, penghargaan diri, keikhlasan menerima, kerelaan untuk melepaskan, kemampuan untuk memaafkan, kesabaran, atau bahkan memahami pentingnya kerendahan hati..

Saya bukan orang suci..
Saya belum menjadi baik sama sekali..
Hingga hari ini saya masih kasar, sering lupa, sombong, tidak sabar, suka pamer, keras kepala, egois, dan masih sering merasa benar sendiri..
Masih banyak sekali rencana yang saya yakin Tuhan sedang jalankan untuk memperbaiki saya..
Karena hati saya masih rusak..
Pernah kosong oleh kebaradaanNya dalam beberapa waktu..
Sehingga menjadi rapuh dan ketika dihantam sana sini, menjadi sulit diperbaiki..

Tapi setidaknya, semua yang terjadi selama saya hidup menyadarkan saya sesuatu..
Hingga hari ini saya tetap meyakini bahwa Tuhan selalu ada dan dekat, Ia Maha Baik, dan Maha Pengabul Segala Doa..
Ia bahkan tetap mengabulkan banyak sekali doa saya..
Seorang saya yang adalah hamba yang nakalnya luar biasa..
Maka, memintalah..
Tetap meminta tanpa sedikitpun rasa ragu kepadaNya..
Tuhan akan kabulkan dengan caraNya..
Pengabulan doa yang tidak akan pernah terpikirkan cara dan waktunya oleh otak dan hati manusia biasa.. 

“Fa-biayyi alaa’i Rabbikuma tukadzi ban..
“ Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?"

 “La bisyay-in min alaika Rabbi akadzibu.."
” Tidak ada satupun nikmatMu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan."

Merry Puspamega Surabaya, 7 september 2013 (09:13 pagi)